Home > cerita Kancil > This is HOME: Pengalaman Membeli Rumah

This is HOME: Pengalaman Membeli Rumah

Membeli rumah buat saya adalah semacam petualangan tersendiri yang cukup melelahkan. Kata orang2 malah bisa disandingkan dengan kegiatan mencari jodoh. Hehe… Saya menuliskan segelintir pengalaman saya waktu mencari rumah selama 1 bulan lebih 12 hari.

 

Minta saran dari yang lebih tua

Sebelum memutuskan untuk mencari rumah (bukan membeli, masih mencari), saya meminta saran dari orang yang lebih tua di sekitar saya. Intinya, saya ingin berinvestasi properti, yang mana ketika itu saya lebih memilih membeli tanah. Saya hanya gak mau uang saya habis pelan2 dicuri nazgul bernama inflasi. Selain orang yang lebih tua lebih punya pengalaman dalam hal jual beli properti, menurut saya pandangan mereka penting karena saya bukan orang Jogja asli.

Sarannya saya dapat dari seorang Ibu karyawan. Beliau menyarankan untuk membeli rumah sekalian aja kalo budget mencukupi. Beliau cerita tentang pengalaman seorang dosen senior yang sekarang punya 2 rumah. Rumah yang pertama dibeli di perumahan. Rumah perumahan, jadi ya tipe yang kecil. Barulah setelah dosen senior ini membeli tanah, dan membangun rumah dengan design yang diinginkan.

This is it…

 

Nekat aja ah..!

Bermodalkan segelintir tabungan, riwayat kerja saya yang udah 2 tahun lebih, dan kebosanan karena tiap bulan bisanya hanya menabung aja tanpa jadi apa2, saya pun nekat memutuskan untuk membeli rumah. Kenapa kok nekat? Karena gaji saya sebagai PNS yang baru 2 tahun gak bisa dibilang besar. Saya hanya berpikir bahwa harga rumah ato tanah gak akan pernah turun, justru akan semakin naik. Kalo saya tunda, gaji saya memang  akan naik, harga rumah pun naik. Sama aja menurut saya beli sekarang dan nanti2.

Walo nekat, segelintir tabungan tetap diperlukan, karena biasanya bank hanya membiayai 70-80% pembelian rumah kita. Jadi kita harus punya modal 20-30% harga rumah. Misalnya mau beli rumah yang harganya Rp 100 juta, kita harus punya modal Rp 20-30 juta. Naa.. di sini kita perlu realistis juga untuk merencanakan jangkauan harga rumah yang mau kita cari.

Pengalaman kerja minimal 2 tahun disyaratkan oleh beberapa bank. Tapi saya pernah membaca pengalaman seseorang yang belum genap 2 tahun kerja tapi KPR-nya diloloskan. Menurut orang ini, tipsnya hanya pede. Nyatakan dengan tegas ke bank kalo kita bisa bayar.

Satu hal lagi. Untuk KPR, bank biasanya mensyaratkan angsuran per bulan besarnya 1/3 dari gaji. Kita bisa menyiasati dengan mengajukan kredit dari bank yang menjalin kerjasama dengan kantor tempat kita bekerja. Untuk saya, saya minta saran dari karyawan di Bagian Keuangan. Selain efisien waktu, mengingat saya orang yang gak suka ribet, Bagian Keuangan biasanya punya kenalan “orang dalam” bank yang bisa dihubungkan dengan kita.

Dengan bank yang punya kerjasama dengan kantor kita ini, karyawan yang mau mengajukan kredit biasanya diberikan perlakuan khusus. Misalnya bunga lebih rendah, angsuran bisa s/d 75% gaji, juga pengurusan administrasi kredit yang mudah dan cepat.

Browsing info rumah dijual

Teknologi amat sangat membantu pencarian rumah. Internet bisa membantu banyak dalam menyediakan info dan iklan rumah dijual, juga hal2 terkait pembelian rumah. Dibandingkan iklan di koran, iklan rumah dijual di internet biasanya menyediakan gambar rumah, spesifikasi lengkap rumah seperti jumlah kamar, jumlah kamar mandi, dapur, dll. Web penyedia iklan rumah dijual biasanya juga punya fitur sortir kisaran harga rumah juga, jadi kita gak perlu memelototi daftar iklan yang seabreg. Tapi sayangnya, beberapa web tersebut terkadang gak meng-update info jika misalnya rumah udah kejual.

Beli rumah biasanya juga mengandung biaya implisit, misalnya PPh (ada yang menyebut pajak pembelian), BPHTB  (Bea Pengalihan Hak atas Tanah dan Bangunan), BBN (Bea Balik Nama), biaya notaris, asuransi, dll. Untuk pembelian rumah secara KPR, asuransi kebakaran, asuransi jiwa, provisi, biaya notaris biasanya udah dipotongkan sekalian dari plafon yang kita pinjam. Jadi hati2 juga bahwa kita nantinya gak nerima uang sejumlah plafon yang kita ajukan karena udah dipotong ini itu. Biasanya total potongan sekitar Rp 5 juta. PPh, BPHTB, BBN ini ditanggung pembeli. Totalnya untuk rumah seharga kurang dari Rp 200 juta sekitar Rp 8-9 juta.

Inilah pentingnya browsing info tentang pembelian rumah. Ternyata ada uang ekstra yang harus disiapkan selain harga rumah lho.

Hal sepele tapi untuk beberapa orang gak boleh ditinggal adalah pengetahuan tentang Fengshui. Mungkin kita sebagai anak muda modern ngerasa gak perlu, tapi orang tua kadang mendesak perlunya perhitungan fengshui juga. Hehehe.. Sifatnya pilihan sih. Kalo saya baca, fengshui sebenernya adalah sesuatu yang ilmiah juga kok, berhubungan dengan ilmu fisika. Tapi entah calon rumah memenuhi fengshui ato gak, yang paling penting adalah perasaan nyaman dan mantap kita sama rumah itu.

Survei lokasi rumah

Ini menurut saya adalah hal paling penting dalam proses mencari rumah. Gambar dan spesifikasi di iklan bisa keliatan bagus, tapi bisa jadi perasaan kita gak nyaman ato mantap waktu masuk ke rumah itu. Gak mau kan nyesel karena salah beli.

Survei lokasi rumah on the spot memberikan kita pengetahuan tentang hal2 lain yang gak disebutkan dalam iklan di internet. Dari pengalaman saya, kita jadi tau gimana keadaan tetangga2, lingkungan di sekitar rumah, apakah ada kebun atau lahan kosong atau sawah di sekitar rumah, apakah jalan ke arah sana bagus, apakah daerah rumah itu dilalui angkutan umum, dll. Pertimbangannya bersifat personal.

Misalnya pengalaman saya sendiri. Awalnya, saya berniat nyari rumah di dekat bandara karena saya sering dan senang bepergian. Tapi kemudian saya ubah ke daerah mana pun asal masih masuk wilayah Kabupaten Sleman. Setelah liat2 di sana sini, dan berdasar pengalaman mogoknya motor saya, pertimbangannya saya tambah lagi dengan daerah itu harus dilalui kendaraan umum. Juga di daerah Jalan Magelang untuk mendekatkan saya dengan jalan raya ke kampung halaman. Hahaha…

Rumahku juga Rumahmu

Selain hal2 di atas, penting juga untuk kita melibatkan keluarga ato teman dalam pencarian rumah kita. Bukannya mereka pasti akan tinggal bareng kita juga, kecuali untuk pasangan menikah. Menurut saya, sebagai makhluk sosial, rumah itu penting juga untuk kita bersosialisasi, misalnya menjadi tempat nginep sodara ato teman dari luar kota. Pertimbangan ini bisa kita gunakan dengan misalnya nyari rumah yang kamarnya lebih dari 1. Ato kita ingin rumah kita jadi tempat kumpul teman2, jadi kita bisa nyari rumah yang ada terasnya ato ruang tengahnya lapang.

Untuk saya pribadi, saya ingin rumah saya nantinya juga bersifat sosial. Jadi rumah itu gak hanya untuk saya sendiri, tapi juga bermanfaat untuk keluarga dan teman.

Hal lainnya adalah sabar. Nyari rumah gak bisa buru-buru. Kalo emang langsung mantep gak papa. Tapi kalo memang rasa mantapnya gak juga datang, lebih baik tunggu sampe mantep. Gimana pun rumah itu akan kita tinggali. Sangat penting untuk dapetin rumah yang bisa bikin kita nyaman, tenang, tentram. Ya itu tadi, rumah itu semacam jodoh kita. Kata orang Jawa, rumah itu pulung.

Selamat berburu rumah ^____^

08062011(001)

-International House, Corvallis, Oregon; Tuesday, Dec 25, 2012-

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: