Home > cerita Kancil > Ekonometrika dan Relativitas keberUNTUNGan

Ekonometrika dan Relativitas keberUNTUNGan

Sejak SMP, berulang kali saya mendengar ajaran bahwa menjadi orang beruntung lebih ‘utama’ daripada menjadi orang pintar. Orang Jawa bilang, “wong bejo ngalahke wong pinter” (red: orang beruntung mengalahkan orang pintar).

Awalnya, dengan pikiran yang masih cukup lugu, saya gak begitu mengerti gimana prakteknya. Tapi saya tetap mempercayai filosofi itu. Mungkin inilah yang namanya keberhasilan doktrinasi, perpaduan antara doktrin orang tua di rumah dengan orang tua di sekolah, alias guru2 SMP saya. Saya menanamkannya dalam diri saya, hingga doa harian saya cukup hanya ‘mohon jadikan saya orang yang selalu beruntung, Ya ALLAH‘.

Ada suatu proses di alam semesta yang berulang kali membelajari saya tentang hal ikhwal “beruntung” ini. Menurut analisis saya, beruntung bisa terwujud secara spiritual atopun secara fisik. Jadi beruntung bisa dibagi menjadi perasaan beruntung dan keberuntungan, yang mana adalah 2 hal yang berbeda.

Justifikasinya bisa saya dapatkan dari analisis ekonometrika untuk persamaan “perasaan beruntung” dan “keberuntungan

(i)     Kalo “perasaan beruntung” adalah variabel Y ato variabel dependen, variabel2 X ato variabel2 independen-nya menurut saya antara lain “ikhlas, sabar, syukur, berusaha cukup, tawakal, berpikir positif, dll”, ceteris paribus.

(ii)    Persamaan untuk “keberuntungan” agak lain, menurut saya. Dengan variabel Y “keberuntungan”, variabel2 X-nya bisa jadi “waktu yang tepat, tempat yang tepat, bantuan dalam takaran yang pas, usaha yang cukup, doa yang cukup, dll”, ceteris paribus.

Jadi, perasaan beruntung bisa dimiliki oleh siapa pun, baik orang yang beruntung, sedang2 aja, bahkan orang yang gak beruntung sama sekali. Caranya adalah dengan mengelola variabel X dari perasaan beruntung, yaitu sikap ikhlas, sabar, syukur, berpikir positif, dlsb.

Sebaliknya, berdasarkan persamaan ekonometrika di atas, keberuntungan ada 2 macam:

  • Keberuntungan yang datang ke individu secara acak, yang sedang berada pada waktu dan tempat yang tepat;
  • Keberuntungan yang datang pada orang yang emang berhak mendapatkannya karena dia udah berusaha dan berdoa dengan cukup.

Jadi, keberuntungan, menurut kita dan orang laen pada umumnya, biasanya hanya dimiliki oleh orang2 yang beruntung saja, seperti orang kaya, orang terkenal, artis, dll. Padahal keberuntungan sebenernya juga bisa diusahakan.

Saya jadi menyimpulkan, seperti teori relativitas Einstein yang berlaku general di jagad raya itu, “perasaan beruntung” sebenarnya juga terasuki relativitas. Artinya, perasaan beruntung itu, seperti perasaan lainnya, bisa dimanipulasi, bisa ditimbulkan, dan dipelihara untuk kesejahteraan diri kita sendiri, oleh diri sendiri.

Bisa jadi kita termasuk orang yang “merasa” gak beruntung, tapi coba inget2 hal2 di sekitar kita yang bisa kita syukuri agar kita merasa beruntung. Orang tua yang selalu mendukung kita, kakak ade yang helpful, pekerjaan yang baik, temen2 yang baik, dll.

Contohnya dalam hal kerja. Tanpa sadar kita “wang sinawang” (red: “saling melihat”) dengan orang2 di sekitar kita.

Misalnya, ada seorang yang pengen banget jadi PNS tapi gak juga lolos tes CPNS. Dia memandang iri temannya yang lolos tes CPNS hanya dengan sekali coba. Dia beranggapan kalo temannya itu orang yang beruntung, padahal temannya sendiri belum tentu merasa beruntung.

Lho…?? Iya. Temannya memang jadi CPNS di kantor dinas/departemen anu yang bonafide, tapi tekanan di kantor, entah pekerjaan ato antar teman dan atasan, tinggi dan bikin stres. Bisa jadi temannya yang jadi PNS itu sebenernya gak merasa beruntung. Bisa jadi dia malah memandang iri ke teman yang lain yang jadi pengusaha, yang punya waktu kerja fleksibel, punya kebebasan idealisme, dll. Hehe.. Bolak balik jadinya.

Kesimpulannya menurut saya, sang PNS bisa jadi emang beruntung (dalam hal bisa lolos tes CPNS sekali coba), tapi belum tentu dia sendiri merasa beruntung. Dia akan jadi genap, beruntung dan sekaligus merasa beruntung, kalo dia bisa ngambil sikap easy going dan tetep bersyukur atas keadaan kantornya yang stresful.

Sekali lagi, perasaan beruntung itu sifatnya RELATIF, bisa kita timbulkan dan manipulasi.

Jadi inget kata Pak Kyai, “Yakinlah!! ALLAH selalu tau yang terbaek buat kita”.

-Dec 24th, 2010 – @home

  1. August 26, 2012 at 9:26 am

    Do you mind if I quote a few of your posts as long as I provide credit
    and sources back to your webpage? My blog is in
    the very same area of interest as yours and my users
    would truly benefit from a lot of the information
    you provide here. Please let me know if this okay with you.
    Thanks a lot!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: