Home > cerita Kancil > “kuliah sambilan” vs”kerja sambilan”

“kuliah sambilan” vs”kerja sambilan”

Saya sedang bertanya2, benarkah kita susah kuliah hanya untuk bersusah-susah bekerja?

Kenapa universitas ato jurusan ato program studi dipandang sukses (red: akreditasinya bagus, dll) kalo lulusannya cepat bekerja? Sampe2 indikator “lama lulusan mendapatkan pekerjaan” jadi patok utama di aspek lulusan.

Rasa penasaran ini bermula ketika dulunya saya sering heran melihat sekeliling saya. Kenapa orang2 pinter (red: dosen2 di kampus saya) bisa membagi otak dan pikiran mereka untuk beberapa pekerjaan sekaligus. Istilah bekennya sekarang “multi-tasking”. Padahal saya selama ini berprinsip, lebih baek mengerjakan 1 hal tapi maksimal daripada bermacam2 hal sekaligus tapi gak maksimal.

Sampe akhirnya, sejak Juni 2007 saya dihadapkan pada situasi semacam itu: harus membagi waktu dan pikiran untuk beberapa tugas dan pekerjaan sekaligus!!


Awalnya emang berat. Ya mikir kerjaan yang bervariasi (baek secara lokasi, waktu, maupun penugasan), ya mikir kuliah (red: waktu itu saya belum lulus). Tapi kemudian saya melihat ke dosen2 saya tadi. Berpikir positif bahwa banyak juga orang yang sukses melakukan keduanya sekaligus. Ya bekerja, ya kuliah, maksud saya. Saya hanya perlu belajar untuk menjadi ter-bi-a-sa.

Waktu itu saya pun berpikir, “Mumpung dikasih kesempatan “belajar kerja”, ya udah dimanfaatin aja”.

Kemudian salah seorang dosen bercerita ke saya bahwa orang2 Jepang juga melakukannya, kuliah sambil bekerja. Mereka malah menganggap kerja lebih penting daripada kuliah. Kata beliau, orang Jepang beranggapan bahwa mereka susah2 kuliah akhirnya juga buat kerja. Istilah mereka di Jepang ‘kuliah sambilan’.

Kebalikan sama Indonesia ya. Di Indonesia, istilah kerennya ‘kerja sambilan, yang menurut saya sebenarnya menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memandang ‘kuliah’ lebih penting daripada ‘kerja’. Jadi ‘kerja’ yang dilakukan selama ‘kuliah’ gak dipandang sebagai pekerjaan yang serius, hanya ‘sambilan’ saja. Menurut KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘sambilan’ salah satunya berarti ‘sesuatu yang tidak penting. Nah.. lho. Benarkah? Kayaknya agak beda dengan di luar negeri ya. Saya lihat orang2 luar negeri serius bekerja walaupun pekerjaannya ‘sambilan’.

Sekarang saya mempertanyakan lagi esensi bekerja setelah selesai kuliah.

Seorang teman pernah bercerita, keluarganya membolehkan dia menikah setelah dia bekerja. Waktu itu dia bertanya2 sendiri, pekerjaan macam apa yang diinginkan keluarganya, karena waktu itu dia merasa ‘sedang bekerja’. Memang bukan bekerja menjadi ‘buruh’ di perusahaan bonafide, tapi dia berwirausaha. Sepertinya ada unsur tekanan keluarga juga yang kemudian menjadikan dia akhirnya bergabung dengan ribuan orang lainnya menjadi ‘job-seeker’ dan menjadikan usahanya sebagai ‘sambilan’ saja.

Nah.. Saya jadi bertanya2 lagi. Sebenernya definisi bekerja di tataran masyarakat Indonesia apa sih?

Wirausahawan sekarang udah mulai banyak. Di kalangan dunia usaha, wirausahawan ini bahkan cepet jadi orang terkenal, kalo sukses dan unik. Tapi jujur saja, di kalangan perguruan tinggi, wirausahawan rasa2nya belum mendapatkan ‘tempat elit yang semestinya’. Tempat elit masih ditempati oleh ‘para pegawai’ Bank Indonesia, Bank Mandiri, BRI, BNI, Bappenas, Kementerian anu, dst.

Kita perlu mempertanyakan lagi esensi bekerja. Mungkin perlu juga untuk mengkaji ulang konstruk sosial tentang bekerja.

-rumah no 14; Minggu, 27 Februari 2011-

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: