Home > cerita Ibu Bumi > Menghargai Kearifan PeTANI

Menghargai Kearifan PeTANI

Seorang guru saya pernah berkata, “Dua pekerjaan paling mulia adalah guru dan petani. Guru karena memberi ilmu, sedangkan petani karena memberi makan orang banyak”……

Petani: SDM sektor pertanian.

Pertanian: terkesan gak elit, kotor, miskin.

Padahal sumbangan sektor pertanian dan turunannya di banyak negara di dunia terhadap PDB tidaklah kecil. Pertanian juga merupakan sektor yang paling tua, hanya kalah tua dibanding berburu dan meramu. Di jaman modern ini, manusia bahkan masih tidak dapat hidup tanpa sektor pertanian, karena bagaimana pun pertanian masih merupakan penghasil hampir semua bahan pangan manusia. Kalaupun pangan itu masuk ke industri pengolahan, tetap saja bahan baku, bahkan hingga bagian terkecil seperti penyedap rasa (red: MSG), berasal dari bagian tanaman atau ternak.

Dibandingkan dengan pabrik pengolahan yang sama-sama menghasilkan pangan, pertanian terkesan remeh dan sederhana. Pabrik-pabrik memiliki mesin-mesin rumit yang lengkap dengan sistem komputerisasi yang terprogram. Sementara pertanian hanyalah serangkaian aktivitas untuk mengolah tanah, menanam, memupuk jika perlu, menunggu, kemudian memanen. Padahal menurutku, pertanian adalah juga suatu sistem berteknologi tinggi.

Secara sekilas saja jika kita bandingkan, pabrik bermesin dan berkomputerisasi buatan manusia itu belum dapat menciptakan vitamin yang benar-benar kompatibel bagi badan manusia. Senyawa buatan pabrik, atau yang disebut senyawa sintetis, lama kelamaan akan berefek buruk bagi badan manusia jika sudah menumpuk dan berlebihan. Tidak seperti produk pertanian, yang jika tidak ditambahi embel-embel pupuk atau pestisida kimia, akan sangat kompatibel dengan badan manusia, bahkan menjamin keberlangsungan hidup jangka panjang. Jika kita renungkan, hal ini berarti bahwa pertanian sebenarnya juga suatu bangunan pabrik yang bahkan jauh lebih besar dari pabrik buatan manusia, karena menjangkau tingginya awan, atmosfer, sinar matahari, hingga kedalaman tanah. Interaksi unsur-unsur alam tersebut selama 24 jam tanpa henti diproses dalam tubuh tanaman untuk kemudian menghasilkan padi, mangga, madu, dan bahan pangan lainnya.

Itu baru dari satu sisi saja. Teknologi pertanian dari sisi alam, tanaman, atau ternaknya. Berikutnya dari sisi petani, sang manajer pabrik alam pertanian.

Petani, SDM utama sektor pertanian, menurut saya juga merupakan tenaga kerja berteknologi namun tidak mengenyam bangku perguruan tinggi. (Pernah ada yang mengatakan, saya lupa siapa, bahwa sebagian orang besar dunia berasal dari kaum petani. Isaac Newton sang penemu teori gravitasi karena kejatuhan apel di kepala itu, Abraham Lincoln salah satu presiden USA itu, Soeharto presiden kita yang terlama itu, dan lain sebagainya). Petani hanya belajar dari alam, berserasian dan mengikuti nalurinya. Banyak hal menyangkut petani hanya dipandang rendah dan sebelah mata, padahal mengandung suatu filosofi atau teknologi yang tinggi. Let’s see…

Terasering (yang teman saya kadang masih heran kenapa “hal kecil” semacam itu bisa membawa saya meraih salah satu cita-cita), terlihat hanya seperti tumpukan lahan pertanian di daerah pegunungan atau perbukitan yang ditanami sayuran atau padi saja. Padahal jika diamati, terasering dibuat sedemikian rupa hingga bukit atau gunung yang miring bisa dibagi menjadi dataran-dataran penyangga tanah, air, dan tanaman. Suatu warisan teknologi dari masa lalu yang bertahan hingga puluhan tahun.

Subak, hanya suatu sistem pengaturan irigasi secara tradisional di Bali. Saya belum pernah mendalaminya, tapi sempat mendengar penjelasan seorang teman dari Universitas Udayanan tentang subak. Sebelumnya saya hanya tahu subak sejauh definisinya saja, tapi kemudian menjadi lebih tahu setelah melihat bagan subak. Subak, menurut saya merupakan suatu sistem pengairan yang rumit, yang tidak hanya untuk mengairi sawah, tapi juga mengandung filosofi perwujudan kehidupan manusia yang berproses dari hulu ke hilir, melalui petak-petak lahan penempaan, sambil sesekali berhenti merenung, kembali kepada Yang Maha Esa. Entah apa benar demikian filosofinya. Yang saya tahu adalah bahwa dalam sistem subak, masyarakat Bali juga menempatkan bangunan-bangunan Pura di titik-titik tertentu.

Belum lagi sistem maro atau sakap, bawon (red: upah buruh panen), prayaan (red: pengerjaan lahan secara bergantian dalam suatu kelompok; masih lestari di Gunung Kidul), gantian. Juga sistem tanam padi legowo, SRI (system of rice intensification), kedalaman tanam 1-3 cm, sistem tanam 1-3 per lubang tanam, dll. Belum lagi pemupukan atau pengendalian hama penyakit dengan MOL (mikro organisme lokal) dari buah maja, bonggol pisang, fermentasi beras, pupuk kandang, kompos, tetes tebu, air rebusan tembakau, dll.

Semua itu sebagian besar ditemukan oleh para petani sendiri tanpa melalui suatu sistem R&D atau Litbang rumit seperti halnya teknologi pabrik. Penyebarannya ke penjuru dunia yang biasanya kemudian mampir di Litbang Departemen Pertanian atau lembaga lain. Semua hal dalam pertanian tidak berjalan begitu saja, tapi juga melalui kebijakan, pengaturan, toleransi, musyawarah antar petani.

Menghasilkan 1 ton beras, makanan pokok kita sehari-hari, saja sudah mengandung teknologi yang bermacam-macam. Belum lagi teknologi untuk tanaman lainnya yang seringkali berbeda. Padahal kebanyakan petani menguasai paling tidak 2 atau 3 macam teknologi budidaya tanaman. Orang-orang luar negeri, misalnya Jepang, banyak yang jauh-jauh datang ke Indonesia untuk mempelajari sistem dan teknologi pertanian tradisional di Indonesia. Tapi kenapa kita sendiri seringkali meremehkannya?

Betapa arifnya sebenarnya petani dan dunia pertanian. Tidakkah seharusnya kita lebih menghargai petani dan dunia pertanian..??

Kata-kata guru saya tadi belum selesai sebenarnya. Beliau melanjutkan, “…jadi, dosen di Fakultas Pertanian lebih mulia lagi karena menjadi gurunya petani”. Tadinya saya sepakat dengan beliau. Tapi kemudian menjadi tidak sepakat karena dosen di Fakultas Pertanian bahkan masih harus sering dan bahkan selalu belajar dari petani…

Categories: cerita Ibu Bumi Tags: , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: