Home > cerita Kancil > tentang PERJALANAN

tentang PERJALANAN

Saya mengutip pendapat Saint Agustine yang berkata bahwa “dunia ini seperti sebuah buku, jadi seseorang yang gak pernah bepergian sama halnya dengan dia hanya membaca satu halaman saja“.

Saya setuju.

ALLAH SWT bahkan “memerintahkan” kita untuk melakukan perjalanan. Salah satunya adalah Surat Al Ankabuut ayat 20 yang berbunyi “Berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana ALLAH menciptakan manusia dari permulaannya, …..“, yang menurut saya memperjelas hal ini.

Bepergian a.k.a travelling secara resmi udah menjadi hobi saya. Hobi dalam artian aktivitas yang bisa “me-restart” saya tanpa saya merasa menyesal buang2 uang.

Hobi saya yang satu ini kemungkinan besar adalah hasil dari gen yang diturunkan. Mbah buyut dan mbah saya kadang bercerita tentang perjalanan2 yang mereka lakukan dulu waktu muda. Salah satu ade mbah buyut malahan tetap melakukan perjalanan2 setelah jadi mbah2.

Hobi saya ini kemungkinan besar juga terbangun karena saking seringnya saya berteman dekat dengan orang2 dari luar Jawa. Saya selalu menikmati saat2 mereka bercerita tentang budaya mereka, geografi dan peristiwa di hometown mereka, juga bahkan perjuangan mereka untuk mudik.

Belum lagi, dari hobi saya lainnya, membaca, tanpa sadar saya mengumpulkan buku2 dari berbagai macam budaya dan latar belakang. Entah kenapa saya suka banget membaca The Lord of the Rings, padahal bukunya cukup tebal dengan tulisan kecil2, yang menurut teman saya membosankan. Isinya kebanyakan tentang “jalan dan perjalanan”. Membaca buku satu itu selalu membuat saya pengen berpetualang.

Sekarang saya bisa melakukan perjalanan tanpa uang ortu, jadi saya makin menyenangi travelling. ALLAH emang baek banget sama saya ya, yang juga menempatkan saya di pekerjaan yang mendukung hobi travelling saya. Saya selalu semangat kalo ditugasi keluar kota, entah hanya untuk ngintil mahasiswa, untuk penelitian ato survei, dll. Intinya bukan hanya karena saya bisa nambah koleksi “ruang dan waktu” dalam lemari arsip pengalaman saya, tapi juga “melihat” dunia lebih lebar dan luas.

Dulu mungkin wilayah jajahan saya hanya di seputaran Pulau Jawa, tapi itu pun rasanya udah luaaaaas banget. Bukan secara ukuran, wong Pulau Jawa aja kalah pamor sama Kalimantan dalam hal ukuran. Tapi lebih ke “apa2 yang saya lihat”.

Contoh saja ya. Setahu saya dulu suku Jawa ya hanya satu macam itu. Ternyata kok ya variannya banyak. Ada yang ngomongnya “ngapak“, ada pula yang membedakan kata untuk menyebut “dekat”, ada yang bilang “cepak, cerak, cedhak“, dll. Ngapakers pun masih macam2 rupanya, ada yang gaya Tegal, gaya Kebumen, gaya Banyumasan. Dll dll…

ALLAHUakbar…

Yang jelas saya selalu dapet “sesuatu” dari perjalanan2 saya. Bukan cuma batik, lukisan, ato oleh2 apa gitu lho. Tapi juga sodara, ayah, ibu, teman+sobat, juga tentu saja kekagetan2.

Kekagetan saya misalnya adalah sholat subuh di Banyuwangi jam 3.30 pagi ato kebalikannya di Banjarmasin jam 5.20 pagi. Jadilah di Banyuwangi saya shock pas bangun jam 5 pagi matahari udah bersinar cerah cerita, tapi pas di Banjarmasin bangun jam 5 masih ngaji2 aja. Selain itu kaget juga bahwa ternyata ada bandara di Indonesia raya yang airport tax-nya hanya 6000 rupiah. Alamak murahnya!!! Trus juga ada satu jalan yang excited karena namanya sama, walopun panjangnya udah melampaui 30 km dan terbentang di 3 kabupaten/kota. Entah Pemda-nya yang malas nyari nama jalan ato mungkin biar praktis aja.

Apapun itu, yang jelas semua perjalanan itu selalu membuat saya bersyukur ato paling gak men-defragment struktur syukur dalam diri saya.

Jadi sampe sekarang saya selalu ingat kata seorang dosen saya, “Lebih baek uang tabungan gak didiemin aja, tapi dipake untuk mengagumi kebesaran ALLAH“.

Lagi2 saya setuju.

-Ruang Transit; Kamis, 10 Februari 2011-

  1. boerhan
    May 20, 2011 at 3:24 am

    huak, huak, huak. inyong demen banget maring resepmu lho. (ngapak ora sich ????)

  2. boerhan
    May 20, 2011 at 3:25 am

    huak, huak, huak. inyong demen banget maring resepmu lho. (ngapak ora sich ????) salam kenal yoo

    • May 21, 2011 at 1:06 pm

      hehehe.. yo lmyn ngapak. leluhur sy dr mbah buyut putri asli daerah “ngapak”. selama bertahun2 saya gak pernah bisa ngomong ngapak. skrg sdkt2 dikira orang Tegal. hahahahahaaa…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: