Home > cerita Kancil > Belajar Ketahanan Pangan Dari Pak Lurah

Belajar Ketahanan Pangan Dari Pak Lurah

Menyusuri bagian dalam Kabupaten Banjarnegara dan masih saja kagum akan peradaban masyarakat mereka. Bisa jadi mereka tidak berpendidikan tinggi. Tetapi keserasian hidup mereka dengan alam sekitar menjadikan mereka sejahtera. Sejahtera dalam artian hidup dalam keamanan, kenyamanan, ketentraman, tidak terusik oleh kasus SBY, Century, Gayus, dan semacamnya.

Seorang Pak Lurah di daerah itu pernah bilang, “Di desa uang bisa jadi sedikit, tapi pangan tidak pernah kekurangan”.

Saya mengagumi ketahanan pangan masyarakatnya. Sebagian besar masyarakat desa di situ masih mengkonsumsi “beras jagung” sebagai makanan pokok. Tidak hanya generasi tuanya, tapi termasuk anak2 mudanya. Beras jagung di sini bukan beras dari padi yang dicampur dengan jagung, tapi jagung sepenuhnya. Jenisnya bukan jagung hibrida ato jagung komposit yang sedang naik daun itu, tapi jagung putih, yang menurut mereka adalah varietas lokal. Jagung itu mereka tanam sendiri, giling sendiri, hingga jadilah beras jagung. Jagung putih ini lebih tahan lama, bisa sampe berbulan2.

Menurut cerita mereka, gak ada yang namanya kelaparan atau kekurangan makan di sana. Bahkan Pak Lurah yang lain mengatakan, “Orang sini belum kenyang kalo belum makan beras jagung”.

Kok berkebalikan sama kita ya..??

Saya sempat bertanya ke teman2  yang berasal dari luar Jawa ato lahir dan besar di luar Jawa, tentang makanan pokok mereka dan pandangan mereka tentang beras.

Seorang teman yang asli Ternate, Maluku Utara, yang lahir di tahun menjelang 1990, sama sekali menolak sagu pernah menjadi makanan pokok orang Maluku. Dia menyatakan bahwa makanan pokoknya adalah beras.

Agak berbeda dengan seorang teman lain yang asli Ambon, Maluku, yang lahir akhir tahun 1970-an. Teman saya yang satu ini masih sangat menghargai sagu (yang sudah menjadi papeda), di samping beras, dan menganggapnya sebagai salah satu makanan pokok orang Maluku. Hal ini didukung oleh tulisan di situs2 berita yang menyebutkan bahwa sagu hingga kini masih tetap diminati masyarakat Maluku, bahkan permintaannya cenderung meningkat.

Menurut teman2 saya di NTT, masalahnya agak2 mirip. Ubi menurut teman saya pernah jadi makanan pokok di daerah Timor, sedangkan jagung di daerah Flores. Tapi sekarang ubi dan jagung menjadi makanan tambahan saja. Makanan pokok berubah menjadi beras.  Katanya ada unsur kebiasaan dari kecil hingga masalah gengsi dan prestise.

Nah.. Jadi tampaknya masalah makanan pokok mengandung masalah “generation gap” (kesenjangan antar generasi) dan bahkan “gengsi”.

Kalo Pak Lurah di sana bisa tetap bangga akan kenyataan bahwa warganya makan jagung sebagai makanan pokok, kenapa kita mesti malu mengakui kearifan lokal makanan pokok di tempat asal kita masing2..?

Minggu, 25 April 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: