Home > cerita Ibu Bumi > Beringin kembar GSP

Beringin kembar GSP

Mungkin akibat didikan Bapak yang melibatkan banyak sawah, kodok, tanaman, dan pepohonan, aku tumbuh jadi seorang “pecinta pohon”. Bukan cinta yang gombal lho.

Cintaku ini kubuktikan dengan cukup seringnya aku ‘menetaskan’ biji2 pepohonan yang kudapat dari wira-wiriku kesana kemari, sampe jadi pohon kecil. Sampe sekarang gak ada yang kutanam sendiri sih, akibat gak adanya lagi sejengkal tanah di pekarangan rumah. Selalu kuberikan ke orang2, entah itu teman Ibuk, Mbah, tetangga Bapak di sawah, dll.

Cinta pohon ini juga seringkali melibatkan hati. Hati ini sedih dan remuk kalo ngeliat pohon tumbang, apalagi kalo karena ditebang. Apalagi kalo itu buat proyek pembangunan. Huuh..

Nah.. Ini salah satu kisah mengenai kecintaanku sama pohon.

Ini tentang akhir kisah beringin kembar di lapangan GSP…

Ini bukan beringin yang jejer ato berdiri berdampingan seperti di alun2 utara Yogyakarta, tapi bisa disebut kembar juga karena letaknya saling bersebrangan di masing-masing tepi lapangan GSP-nya UGM (ehem ehem.. Grha Sabha Pramana). Yang satu di sebelah barat, satunya lagi di timur, tapi sama2 ada di bagian selatan lapangan GSP.

Dulu pas mereka berdua masih sehat, kedua beringin ini jadi tempat berteduh dan ngadem para ‘peminta2’, terutama yang sebelah timur. Sering pula untuk nongkrong anak-anak muda. Dan kadang bahkan juga buat berdua2an alias pacaran. Lagi2 terutama yang sebelah timur. Hehe..

Gak tau juga kenapa mereka2 ini lebih memilih beringin sebelah timur. Apa lebih membawa berkah ato gimana? Padahal beringin timur lebih rame ‘populasinya’ karena ada di pertigaan kampus Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) dan komplek UC. Sementara beringin barat ada di sebelah Jalan Kaliurang emang, tapi jalan perempatan di situ kan tutup, jadi lebih sepi (red: sekarang jalan di samping beringin barat udah dibuka, tapi tetep sepi pengunjung).

Tanggal 7 November 2008, waktu beberapa bagian UGM, terutama daerah Boulevard UGM yang emang wilayah terbuka, kena angin puting beliung, kedua beringin adalah salah dua dari korban. Beringin timur jadi seperti ‘nyonya glamor’ yang rambut sasak rapinya kena angin ribut, jadi berantakan di beberapa bagian, tapi masih berdiri dan berdaun . Yang kurang beruntung adalah beringin barat yang sampe ambruk, tercabut sampe ke akar2nya. Sedih melihat mereka.

beringin timur GSP abis puting beliung
beringin timur GSP abis puting beliung
beringin barat GSP ambruk
beringin barat GSP ambruk

Waktu itu aku baru aja lulus, tapi masih ke kampus karena ikut sok sibuk ini itu, dan masih rajin jalan kaki. Aku sedih ngeliat sang beringin barat. Lebih lagi pas pada suatu hari, kira2 seminggu setelah kejadian angin puting beliung itu, pagi2 pas aku berangkat ke kampus, sang beringin barat kuliat lagi dikelilingi pekerja2. Kupikir waktu itu mereka mo bersihin sisa2 sang beringin barat. Menyingkirkannya. Hati jadi makin sesak.

Tapi pas pulang dari kampus, deng deng…. Sang beringin barat berdiri tegak lagi. Mereka menanamnya lagi, walo daun2nya rada digunduli. Beringin timur juga digunduli, mungkin untuk menyamakan. Syukurlah. Sebagai pecinta pohon, aku lega. Beringin kembar GSP balik lagi, walo kepalanya yang biasanya rimbun jadi botak.

Sampe awal 2010, kedua beringin gak ada tanda2 bakal tumbuh subur menghijau kayak dulu lagi. Mereka tetep kering, gundul, gak ada lagi daun muncul. Padahal hujan deras terus menerus turun dari sejak akhir tahun 2009 kemarin.

Akhirnya bulan Maret 2010 lalu kedua beringin dicabut. Aku gak tau kapan tepatnya ato menyaksikannya, hanya sadar bahwa tau2 mereka berdua udah gak ada. Sebagai gantinya, ada bakal pohon kecil yang ditanam di sebelah para beringin. Kupikir tadinya itu pohon akasia, tapi sekarang setelah mereka lebih gede (red: Februari 2011), ternyata mereka pohon muda beringin juga.

Moga2 aku bisa menyaksikan kedua beringin ini tumbuh besar lagi menggantikan para beringin. Bukan hanya menggantikan posisinya, tapi juga fungsi peneduhnya buat orang-orang, baek yang peduli atopun gak.

Selamat tinggal para beringin. Jasamu takkan terlupa.

Rumah no 14; Sabtu, 22 Mei 2010

Categories: cerita Ibu Bumi Tags: , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: