Home > cerita Kancil > SEKOLAH hanya UNTUK BEKERJA??

SEKOLAH hanya UNTUK BEKERJA??

 

Suatu lingkaran setan pemikiran yang datang dari seorang “sobat” setelah membaca note-ku sebelumnya, “aku siap untuk lulus!!” Dia gak sepakat bahwa “lulusan universitas harus siap kerja”. Menurutnya, selama kita kuliah, kita gak pernah diajari cara-cara menghadapi bos, cara menjadi karyawan yang terampil, dsb. Kita hanya diajari TEORI dan belajar sendiri mengembangkan softskill kita. Dan sepengalamannya, bahkan di pekerjaannya yang sekarang ini masih sama dengan bidang ilmunya, dia masih harus belajar lagi untuk bisa bekerja dengan baik. Kami berdiskusi dan sampe pada pertanyaan, “untuk apa sih kita mencari ilmu di universitas?” Apakah hanya agar setelah lulus bisa diserap dunia kerja?

Kata universitas berasal dari kata latin “universitas magistrorum et scholarium” yang artinya masyarakat para dosen dan pakar. Kata penting lain yang terkait dengan universitas yaitu “academia”, yang aslinya akademeia (akademia), yang berarti suatu masyarakat ilmu pengetahuan dan budaya yang melaksanakan pendidikan tinggi serta riset dalam satu kesatuan.

Menurut KBBI, uni•ver•si•tas merupakan perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan ilmiah dan atau profesional di sejumlah disiplin ilmu. Sedangkan aka•de•mi adalah lembaga pendidikan tinggi, kurang lebih 3 tahun lamanya, yang mendidik tenaga profesional.

Menurut Wikipedia, universitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan “pendidikan akademik” dan atau vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan “pendidikan profesi”. “Pendidikan akademik” adalah pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau seni tertentu, yang mencakup program pendidikan sarjana, magister, dan doktor. Sedangkan “pendidikan profesi” adalah pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus.

Dengan demikian, universitas yang benar pengertiannya ialah perwujudan dari “science center”, yang berarti bahwa universitas merupakan pusat ilmu pengetahuan yang mengelola ilmu pengetahuan. Gasset pada tahun 1966 menulis bahwa pengertian perguruan tinggi atau universitas pada masa itu telah berubah menjadi sebuah institusi yang mengajar mahasiswa menjadi orang yang berbudaya dan anggota masyarakat yang baik dalam keprofesiaannya.

Jika kita lihat, kebanyakan disiplin ilmu yang ada di universitas diajarkan melalui pendidikan akademik, dan hanya sedikit disiplin ilmu yang memiliki pendidikan profesi. Jadi benarkah paradigma universitas pada masa kini yang mendidik mahasiswa untuk bisa memenuhi kebutuhan dunia kerja? Paradigma ini menjadikan universitas seakan-akan pabrik “manusia” (red: SDM) yang produknya diharapkan bisa laku dan cepat terserap di pasar. Apakah ada suatu kesalahan berpikir ataukah paradigma universitas yang memang sudah jauh berubah? Paradigma ini bahkan juga sudah sangat menempel di benak mahasiswa, dimana tujuan mereka setelah lulus adalah langsung bekerja.

Jadi kembali ke pertanyaan awal, “apakah kita menuntut ilmu DI UNIVERSITAS hanya untuk bekerja?”

Jika jawabannya iya, banyak pula orang di luar sana, seperti tukang becak, pengusaha warteg, Titiek Puspa, Thomas Alfa Edison, dan lain sebagainya, yang gak kuliah tapi bisa berkarya dalam profesi dan pekerjaannya masing-masing dengan sukses. Jadi untuk apa kita merasa perlu untuk kuliah?
Di Al Qur’an disebutkan bahwa “ALLAH meninggikan orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat”. Jika kuliah ditujukan hanya untuk meningkatkan kesejahteraan, eksistensi, harkat, martabat, dan derajat, banyak pula orang di luar sana yang bisa tetap sejahtera, eksis, berderajat, dan bermartabat tanpa kuliah.

Jika kebanyakan orang berpikir “kuliah untuk bekerja”, bagaimana dengan nasib pengembangan ilmu yang merupakan fungsi ‘original’ universitas? Apakah pengembangan ilmu hanya digantungkan kepada dosen, peneliti, atau mahasiswa S3 saja? Kenapa “ilmu” kemudian seakan-akan dinilaiuangkan?

Jika kita “berilmu hanya untuk bekerja”, kenapa gak milih untuk sekolah di SMK ato kuliah di akademi saja yang memang mendidik lulusannya menjadi “siap kerja”?

 

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_profesi
http://indonetasia.com/definisionline/?p=679
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: