Home > cerita Kancil > Balada Sang PEROKOK

Balada Sang PEROKOK

Aku orang yang sangat anti rokok sampe umur 23 tahun.

Aku lahir dan besar di kota yang sangat lekat dengan tembakau (red: Temanggung). Banyak orang akan langsung menebak aku adalah ‘juragan tembakau’ setelah aku menyebutkan asalku.

Selama kuliah aku memberikan perhatian yang lumayan untuk masalah pertembakauan. Makalah seminar kelasku dulu tentang tembakau. Dilanjutkan dengan skripsiku yang juga tentang tembakau dan tulisan ilmiahku demikian pula. Sekarang aku gak lagi berkeinginan menulis apapun tentang tembakau, setelah aku menjadi lebih anti tembakau.

Tadi aku menyatakan sampe umur 23 tahun. Nah… karena pada umur itulah aku mulai mengenal teman-teman baek yang sampe sekarang menjadi sobat, bahkan sodara. Unfortunately, mereka semua perokok aktif dalam aneka ragam rokok. Ada yang merokok lintingan, ada yang ‘dji sam soe’, ada yang rokok mild biasa. Aku bahkan belajar tentang serba serbi perokokan dari mereka ini. Dari membedakan macam-macam rokok hingga anggapan mereka tentang merokok dari sisi psikologis dan kesehatan.

Aku memberikan perhatian khusus dalam hal rokok mereka. Seringkali bertanya kenapa mereka merokok dan apakah mereka pernah mencoba berhenti merokok. Sebagian besar memberikan jawaban yang umumnya sama, yang kemudian membuat aku memilih untuk menerima mereka apa adanya bersama-sama dengan rokok mereka. Dengan demikian, mau gak mau, tiap kali ngumpul dengan mereka, aku merelakan diriku menjadi perokok pasif mereka.

Tapi justru setelah mengenal mereka, di umur 23 tahun itu, aku jadi lebih bisa menghargai perokok secara umum. Dulu aku jengkel jika orang di sekitarku merokok, tapi sekarang gak lagi. Aku jadi lebih bisa memahami alasan dan kesulitan para perokok itu untuk lepas. Aku memilih untuk menghargai pilihan teman-temanku, bukan karena ingin menjaga hubungan baik saja, tapi juga karena aku bisa memahami alasan dan pilihan mereka. Menurutku mereka sebenernya adalah juga “orang susah”.

Hingga saat ini, baru seorang di antara mereka yang bisa kupengaruhi dan berhasil menghentikan rokoknya. Walaupun hanya berhenti selama 1 tahun dan sekarang merokok lagi, aku masih mencatatnya sebagai salah satu keberhasilanku.

Sekarang cerewetku sedang kambuh ke seorang sobatku yang perokok. Bukan karena tidak menghargai pilihannya, tapi karena mengkhawatirkan kesehatannya. Jawaban menarik kudapat darinya beberapa waktu lalu.

Sama dengan teman-teman yang lain, dia juga menyatakan sudah sangat paham efek buruk rokok, baik dari sisi kesehatan maupun finansial. Tapi jawabannya menurutku beda dari yang lain hingga aku mencatatnya di sini.

Dia bilang, “Katanya kan di jaman dulu kira-kira 40% orang USA mati karena merokok ya. Nah.. tapi yang 60% lainnya kan sama-sama akan mati juga kan? Jadi ya sama aja dong antara merokok dan gak. Ntar juga bakal mati juga”.

Wah..

Kemudian aku berargumen dari sisi finansial bahwa dengan berhenti merokok dia akan bisa menabung, menghemat pengeluaran, dsb. Jawabannya gak kusangka. Katanya, “Kamu udah punya rumah? Udah punya mobil? Belum kan? Nah.. sama dong aku juga. Padahal aku merokok dan kamu gak. Jadi sama aja dong antara merokok dan gak”.

Nah,, teman-teman, kata-kata bujukan apa lagi ya yang harus kugunakan padanya?

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: