Home > cerita Ibu Bumi > Green Office

Green Office

Sejak tahun 2000-an banyak pihak, baik pemerintah, LSM, NGO, maupun orang per orang, mulai cerewet dan ribut tentang global warming. Banyak hal yang kemudian dilakukan pihak-pihak tersebut untuk membuka mata dunia tentang pentingnya mengurangi global warming, bolongnya lapisan ozon, perubahan iklim, dan efek-efek buruknya yang merugikan manusia.

Banyak arsitek merancang rumah dan kantor hemat energi, baik listrik maupun pencahayaan. Pihak swasta di luar negeri membangun instalasi daur ulang ataupun membangun industri peralatan ramah lingkungan, misalnya peralatan rumah tangga. Ada pula yang ingin menggugah kesadaran masyarakat dunia dengan membuat film komersial dan dokumenter mengenai perubahan yang terjadi di berbagai belahan dunia akibat global warming dan perubahan iklim saat ini, yaitu The Inconvenient Truth dan Earth from Above. Dunia bahkan baru-baru ini berkumpul di Bali dan menyelenggarakan konferensi perubahan iklim. Dan yang baru-baru ini adalah pemerintah Australia yang sukses meniadakan penggunaan lampu bohlam yang dianggap boros energi dan menggantikannya dengan lampu hemat energi di rumah-rumah maupun perkantoran.

Dari semua hal itu, bisa kukatakan bahwa masih banyak juga ternyata orang di dunia ini yang peduli dan mau bertindak untuk mengurangi keberlanjutan global warming. Bagaimana dengan Indonesia?

Beberapa bulan lalu aku cukup seneng setelah membaca suatu artikel tentang Jakarta Green Office/JGO. Kegiatan ini adalah ajang kompetisi antar perusahaan di Jakarta tentang kepedulian terhadap lingkungan kerja dalam gerakan penghematan listrik, air, kertas, dan pengolahan sampah. Program ini diadakan pada Juli-Oktober 2008, dimana 65 perusahaan dari berbagai bidang di Jakarta, diantaranya Citi Group, Indosat, Unilever, dan perusahaan besar lainnya, ikut mendaftarkan diri untuk mengikuti kompetisi ini.

Banyak kreativitas yang diterapkan pesertanya. Misalnya penghematan listrik dengan menerapkan sistem pengaturan On/Off AC, penggunaan remote untuk On/Off lampu (desentralisasi), pengaplikasian transparent roof, dll. Selama 3 bulan, pemakaian listrik bisa dikurangi hingga sebesar 10.000 kWh setiap bulannya dari pemakaian normal sebesar 45.000 kWh/bulan. Penghematan ini sebanding dengan pengurangan emisi CO2 sebesar 3.800 kg CO2/bulan. Selanjutnya, usaha untuk menghemat air antara lain dilakukan dengan mengganti tipe keran menjadi tipe tekan otomatis untuk mencegah lupa mematikan keran air di wastafel dan toilet. Sedangkan program pengurangan limbah perkantoran dilakukan dengan cara memanfaatkan kembali kertas bekas yang telah digunakan salah satu sisinya untuk dapat digunakan kembali sisi lainnya untuk print dan foto copy. 5.000 lembar kertas bisa dihemat setiap bulannya, angka ini setara dengan mencegah ditebangnya 6 pohon setiap bulannya sebagai bahan dasar pembuatan kertas.

Jadi, bagaimana dengan kita sendiri?

Apakah kita sebagai masyarakat akademis, mercu suarnya ilmu pengetahuan, sudah melakukan sesuatu untuk ‘sang ibu bumi’?

Beberapa tahun belakangan ini isu ‘pertanian berkelanjutan’ menjadi perhatian di kampus kita. Pertanian berkelanjutan kan sangat terkait erat dengan alam ya. Tidak hanya ketersediaan air dan keadaan tanah untuk pertanian, tapi juga keadaan iklim. Dan menurutku, apa yang kita lakukan sehari-hari di rumah dan kantor nantinya juga akan terkait dengan pertanian berkelanjutan ini, yang mana sangat bergantung pada iklim tadi.

Sebagai bagian dari masyarakat akademis yang katanya kumpulan orang-orang pintar, aku sering prihatin melihat banyak Bapak/Ibu yang gak peduli. Pemandangan biasa di kampus bahwa orang-orang gak mencabut colokan listrik komputer, sehingga komputer di lab masih kedap kedip monitornya. Begitu pula printer dan dispenser yang dibiarkan stand by, bahkan saat galonnya sudah habis airnya. Belum lagi pemandangan sampah bertebaran di lingkungan kampus setelah ada event apapun di kampus.

Beginikah cerminan kalangan terpelajar di masyarakat kita??

“Bumi bekas”-kah yang akan kita wariskan ke anak cucu nanti??

Untuk menjadi peduli ke “ibu bumi”, kita gak perlu mengubah banyak hal atau berinvestasi mengubah setting gedung kita seperti yang dilakukan perusahaan-perusahaan yang ikut serta dalam Jakarta Green Office. Seorang teman di Bank Indonesia cerita bahwa BI sudah melakukan program “BI Go Green” dalam 2-3 tahun ini. Yang mereka lakukan gak sehebat perusahaan-perusahaan partisipan JGO, tapi penularan kepeduliaannya di kalangan staf BI telah cukup berhasil.

Mereka melakukan beberapa dari hal-hal kecil ini…

  • Menggunakan kertas di 2 sisi untuk print dan fotocopy, terutama untuk print laporan dan skripsi/tesis yang masih draft. Kalo Bapak/Ibu dosen protes, kita bisa sekalian jelaskan tentang nasib pohon-pohon yang berkorban untuk kita itu. Jika berhadapan dengan Bapak/Ibu yang ‘ekonomis’, kita bisa jelaskan tentang besarnya penghematan yang bisa kita lakukan.
  • Mencabut colokan komputer, printer, dispenser pas pulang kantor, atau juga colokan TV, radio, dan peralatan lain di rumah yang gak terpake. Hal ini bisa menghemat listrik dan biayanya hingga 40%.
  • Menghemat penggunaan tissue. Ingat-ingat berapa banyak pohon yang berkorban untuk ditebang dan dijadikan tissue ini, yang mana sering kita buang walopun belum kotor banget.
  • Gak mencetak receipt di ATM jika gak perlu banget, karena kertasnya juga dibuat dari pohon.
  • Menggunakan AC di atas jam 9 pagi. Mengingat Jogja gak panas-panas amat, pasti bisa lah ya.
  • Membawa tas sendiri untuk belanja, baik pas belanja di pasar maupun supermarket, untuk menghindarkan kita menggunakan dan menumpuk plastik. Lagipula tas plastik hitam dicurigai merupakan produk pakai ulang yang tidak sehat.

Jadi, kita juga pasti bisa..

Salah satu alasan UGM perlahan-lahan ditutup dari umum adalah untuk mengurangi polusi dalam lingkungannya. Kalo tindakan green environment ini juga didukung dengan green office, kayaknya jadi lebih lengkap.

Ayo mulai budayakan peduli bumi dan pohon…
Trus tularkan kepedulian itu ke orang-orang di dekat kita…
Satu orang yang peduli akan menularkannya ke orang lain hingga efek dominonya bisa terus berlanjut..

Ada ide laen gak kita bisa ngapain lagi??

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: